Senin, 05 Januari 2009

2009, Tahun Kerja Keras


Terompet pergantian tahun sudah ditiup. Dentang pergantian tahun sudah ditabuh. 2008 telah berlalu, dan kita menatap 2009. Ada secercah harapan, tapi juga banyak kegalauan dan kekhawatiran. Semuanya seperti berkata, 2009 adalah tahun yang penuh tanda tanya.

Hantaman krisis keuangan global yang dirasakan sepanjang 2008, diprediksikan akan semakin menjadi pada paruh pertama 2009. Ekonomi negeri ini juga akan terkena imbasnya. Situasi ekonomi yang sulit ini mungkin akan semakin menjadi karena pada April mendatang akan dihelat pemilihan umum legislatif yang akan disusul dengan pemilihan presiden.

Sementara ekonom masih mengharapkan pesta demokrasi itu mampu menopang perekonomian nasional. Belanja partai-partai seperti untuk pamflet, baliho, bendera, kaos, dan lainnya akan cukup besar. Benarkah? Mungkin bisa iya, bisa juga tidak. Pasalnya, dana partai itu kini juga sedang mengempis karena para donatur yang kebanyakan pengusaha juga tengah mengencangkan ikat pinggang.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam suatu kesempatan menyatakan ekonomi Indonesia tahun 2009 ini masih akan tetap positif. Pertumbuhan ekonomi masih akan berada di kisaran 4,5 persen. Tapi, presiden mengingatkan angka itu hanya akan tercapai jika semua elemen bangsa ini mau bekerja keras.

Pernyataan presiden jelas mengandung makna yang dalam. Tanpa kerja keras bisa jadi bangsa ini akan kembali tenggelam dalam kubangan krisis seperti tahun 1998. Mau? Tentu saja tidak. Karenanya, momentum Pemilu 2009 juga diharapkan bisa menggerakan perekonomian. Para pengusaha pun harus bekerja keras agar kapal usahanya tidak limbung dan kemudian karam.

Tahun 2009 menjadi tahun kerja keras bagi seluruh anak negeri. Kita semua tidak ingin negeri ini larut dalam krisis keuangan global. Kita tidak ingin jumlah pengangguran meningkat. Karena jika pertumbuhan ekonomi hanya 4,5-5 persen, maka jumlah lapangan kerja yang terbuka hanya 600 ribu, padahal setiap tahun jumlah angkatan kerja bertambah 2,5 juta. Dengan angka itu, maka tahun 2009 ini jumlah pengangguran diprediksi akan membengkak 1,5 juta. Apalagi ditengarai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih akan terjadi.

Tahun 2009 sudah kita jejak. Tinggal langkah yang padu padan antara pemerintah, pelaku usaha, dan juga masyarakat diayunkan. Pemerintah mungkin perlu memberikan insentif fiskal ke pelaku usaha, pelaku usaha juga tidak perlu cengeng, masyarakat pun harus mau mendukung program yang ditawarkan pemerintah. Diharapkan dengan padu padan dan langkah yang serasi itu, tahun 2009 yang merupakan tahun politik dapat berlalu dengan sejuk dan kalis dari kubangan krisis.

Kamis, 25 Desember 2008

4N = ATM = Mee Too


Guru marketing Hermawan Kartajaya selalu menekankan agar produk kita laku dan menjadi nomor satu, maka harus selalu menampilkan be different dan be innovation. Terlihat bahwa apa yang disampaikan oleh Pak Hermawan menjadi hal yang mutlak.

Pertanyaan berikutnya yang menggelayuti benak saya adalah, apakah produk yang dibilang mirip tidak bisa menyalip produk yang lebih dahulu ada? haruskah kita 100 persen berbeda dan 100 inovasi baru? Idealnya mungkin iya. Tapi, kalau melihat sejumlah perusahaan yang sukses di dunia ini kadang juga tidak 100 persen berbeda dan 100 hasil inovasi baru. Mungkin kita bukan yang pertama (penemu suatu produk), tapi yang tercepat dalam inovasi.

Kalau mau jujur, Google pun muncul dan kini menjadi perusahaan nomor satu dunia, merupakan bentuk pengembangan dari mesin pencari yang saat itu sudah ada yakni Altavista. Yang pasti, kini Google, mampu menyalip pendahulunya. Kunci sukses Google adalah, mampu melakukan berbagai perbaikan dari sistem pencari terdahulu. Dan mereka juga tidak bosan untuk terus menyempurnakannya. Belum tentu baru, tapi yang pasti jauh lebih bagus.

Hal yang sama juga bisa dilihat di berbagai situs di tanah air, baik itu situs berita, situs e-commerce, atau situs jejaring sosial. Pastinya, situs-situs ini secara teknologi, model desain, dan tetek bengeknya mencontek dari situs-situs di luar negeri yang sudah ada terlebih dahulu. Tinggal dipoles dan dimodifikasi sesuai keperluan dan karakter pembaca di Tanah Air. Jadi, secara teknologi sudah ada, tinggal siapa duluan yang bisa memunculkan. Selanjutnya tinggal diklaim: Pertama di Indonesia.

Model ini sering dikenal dengan ATM alias Amati, Tiru, dan Modifikasi. Kalau soal ukuran sukses dan tidaknya, mungkin perlu dilakukan pengukuran kuantatif dan kualitatif lebih lanjut.

Ada pelajaran yang bisa dipetik dari salah satu buku yang berjudul: Orang Terkaya di Indonesia 2007. Buku terbitan Pustaka Timur, 2007, itu mengupas kisah sukses 10 tycoon di Tanah Air. Sungguh luar biasa! Usaha mereka mungkin ada yang memiliki kesamaan satu dengan yang lain, tapi mereka bisa survive dan akhirnya bisa menjadi juara. Meski, ada di antara mereka muncul belakangan. Incumbent dalam dunia bisnis belum tentu akan selamanya juara.

Saya ambil contoh pengalaman dari Bos Wings Group Eddy William Katuari. Dari sisi bisnisnya hampir sama dengan bisnis yang dijalankan oleh Unilever (produk toileter). Juga hampir sama dengan bisnis Indofood (mie instans). Tapi dengan gaya 4 N = niteni (melihat), nitili (menganalisa), niroke (menirukan), nambahi (memberi nilai tambah), dia berhasil mengejar sang incumbent. Produk Wings memang saat ini menjadi produk Mee Too (produk yang membayangi). Tapi jangan salah, jika incumbent lengah, dalam satu kelokan akan tersalip.

Itu baru soal model dalam pengembangan bisnis. Yang tak kalah luar biasanya dari para tycoon itu adalah semangatnya yang luar biasa, tidak pernah berhenti berpikir untuk menangkap peluang, tidak mudah menyerah meski kadang harus menelan kegagalan, dan pasti bukan orang yang cengeng, sedikit-sedikit merengek.