SETIAP menjelang perayaan Idul Fitri, semua media dengan gencar memberitakan persiapan arus mudik. Saat itu, jutaan orang melakukan migrasi dari kota tempatnya bekerja kembali ke kampung halamannya. Banyak anasir menyebut mudik adalah ciri khas budaya Indonesia. Benarkah?
Teryata fenomena mudik ini tidak hanya monopoli orang Indonesia. Di sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat, ternyata banyak warga negaranya yang mudik atau melakukan migrasi entah ke kampung halamannya maupun ke tempat-tempat wisata. Tapi, kalau di Indonesia, mudik selalu identik dengan Lebaran, maka di negara barat identik dengan perayaan Thanksgiving, Natal, dan Tahun Baru.
Berdasarkan catatan Asosiasi Automobil Amerika (American Automobile Association/AAA), pada perayaan hari Thanksgiving, lalu lintas jalan raya di AS selalu dipadati pengguna jalan. Pada 2007, lembaga asosiasi independen untuk advokasi pelancong dan pengendara itu mencatat sekira 38,7 juta warga Amerika melakukan perjalanan sejauh 50 mil atau lebih.
Angka ini naik 1,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kepadatan jalan raya yang dimulai sejak 21 November itu didominasi mobil yang mencapai angka 80 persen. Meskipun terjadi kenaikan harga BBM di AS, tidak menyurutkan para pengendara kendaraan untuk melakukan perjalanan selama hari liburan itu.
Kembali ke dalam negeri, arus mudik Lebaran selalu menyimpan rasa was-was dan juga rasa senang. Was-was, karena infrastruktur dan moda transportasi di negeri ini masih ala kadarnya. Jalan-jalan di sepanjang jalur Pantura Jawa juga tidak kunjung selesai dilakukan perbaikan. Moda transportasi seperti bus, kereta, pesawat, kapal, juga tidak juga lebih baik. Bahkan pengelola terkesan asal-asalan dalam merawat moda transportasinya. Inilah yang sering membuat hati menjadi mencekam, dan menuntut semakin memperbanyak doa. "Semoga tidak terjadi apa-apa (kecelakaan) di sepanjang perjalanan."
Tahun 2008 ini berdasarkan perkiraan Dephub, tidak kurang 15,8 juta orang akan mudik ke kampung halamannya. Angka yang fantastis bukan. Dan pastinya perputaran uang pun akan menggeliat di daerah-daerah. Namun, sekarang ini, PR yang mesti diselesaikan adalah bukan melarang orang untuk mudik, melainkan bagaimana memfasilitasi pemudik. Pemerintah juga perlu andil dalam menyediakan infrastruktur dan moda transportasi yang baik. Semoga mudik tahun depan lebih lancar dan semakin sedikit insiden kecelakaan. Amien.
Minggu, 28 September 2008
Selasa, 23 September 2008
Daging Busuk Hingga Susu Bermelamin
DUA pekan silam, saya sempat berceletuk kepada rekan kerja saya yang sebagian memang ibu muda. "Eh, jangan konsumsi susu China karena diduga mengandung melamin." Celetukan saya itu begitu saja terlontar saat membaca salah satu berita dari Negeri Tirai Bambu itu.
Cuma pada saat itu saya juga sempat bertanya ke rekan yang lain, tentang peredaran susu produk China di Indonesia. Terus terang, sebenarnya sangat sulit untuk menemukan susu produk China di negeri ini. Cuma, kehati-hatian pantas didengungkan terutama bagi mereka yang memiliki balita.
Pengumuman Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Selasa (23/9/2008), yang menarik 28 produk makanan yang diduga terkontaminasi melamin karena menggunakan susu produk China untuk meracik adonan, cukup melegakan. Meski baru sebatas dugaan dan antisipasi, yang pasti konsumen akan mulai hati-hati dan berpikir untuk tidak mengkonsumsi 28 jenis makanan itu.
Berita susu China yang terkontaminasi melamin ini jelas cukup heboh di tengah persiapan Lebaran. Surat kabar di Negeri Tirai Bambu menyebutkan empat bayi meninggal akibat mengonsumsi susu bermelamin. Bahkan lebih dahsyatnya tak kurang dari 53.000 balita telah menjadi korban susu bermelamin itu.
Di Indonesia, memang belum ada laporan soal itu. Yang pasti sikap Badan POM layak dihargai meski boleh dibilang kurang cepat. Setidaknya, langkah Badan POM menarik 28 produk makanan yang diduga terkontaminasi melamin dapat digunakan untuk melindungi konsumen.
Menjelang Lebaran, produk lain yang tidak kalah berbahayanya adalah makan yang mengandung formalin. Hasil sidak yang dilakukan berbagai instansi menunjukkan bahwa banyak daging maupun ikan segar yang diberi formalin. Sungguh berbahaya! Yang tidak kalah mengerikannya adalah beredarnya daging busuk dan daging sisa hotel.
Melihat fenomena tersebut, sudah selayaknya sejumlah instansi baik itu Dinas Perdagangan, Dinas Peternakan dan Perikanan, dan Badan POM, melakukan koordinasi untuk mencegah beredarnya makanan yang tidak layak konsumsi itu. Koordinasi mutlak dilakukan karena selama ini kewenangan penindakan tersebar di instansi-instansi tersebut. Intinya, jangan sampai konsumen menjadi korban.
Yang tidak kalah pentingnya adalah deteksi dini saat produk-produk impor masuk ke dalam negeri. Selama ini banyak sekali produk makanan dan barang yang sebenarnya berbahaya namun lolos dan akhirnya dijual bebas ke konsumen. Karenanya instansi terkait, entah itu Bea Cukai, dan lainnya lebih ketat mengawasi produk impor. (Catatan Redaksi Okezone, 24-9-2008)
Cuma pada saat itu saya juga sempat bertanya ke rekan yang lain, tentang peredaran susu produk China di Indonesia. Terus terang, sebenarnya sangat sulit untuk menemukan susu produk China di negeri ini. Cuma, kehati-hatian pantas didengungkan terutama bagi mereka yang memiliki balita.
Pengumuman Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Selasa (23/9/2008), yang menarik 28 produk makanan yang diduga terkontaminasi melamin karena menggunakan susu produk China untuk meracik adonan, cukup melegakan. Meski baru sebatas dugaan dan antisipasi, yang pasti konsumen akan mulai hati-hati dan berpikir untuk tidak mengkonsumsi 28 jenis makanan itu.
Berita susu China yang terkontaminasi melamin ini jelas cukup heboh di tengah persiapan Lebaran. Surat kabar di Negeri Tirai Bambu menyebutkan empat bayi meninggal akibat mengonsumsi susu bermelamin. Bahkan lebih dahsyatnya tak kurang dari 53.000 balita telah menjadi korban susu bermelamin itu.
Di Indonesia, memang belum ada laporan soal itu. Yang pasti sikap Badan POM layak dihargai meski boleh dibilang kurang cepat. Setidaknya, langkah Badan POM menarik 28 produk makanan yang diduga terkontaminasi melamin dapat digunakan untuk melindungi konsumen.
Menjelang Lebaran, produk lain yang tidak kalah berbahayanya adalah makan yang mengandung formalin. Hasil sidak yang dilakukan berbagai instansi menunjukkan bahwa banyak daging maupun ikan segar yang diberi formalin. Sungguh berbahaya! Yang tidak kalah mengerikannya adalah beredarnya daging busuk dan daging sisa hotel.
Melihat fenomena tersebut, sudah selayaknya sejumlah instansi baik itu Dinas Perdagangan, Dinas Peternakan dan Perikanan, dan Badan POM, melakukan koordinasi untuk mencegah beredarnya makanan yang tidak layak konsumsi itu. Koordinasi mutlak dilakukan karena selama ini kewenangan penindakan tersebar di instansi-instansi tersebut. Intinya, jangan sampai konsumen menjadi korban.
Yang tidak kalah pentingnya adalah deteksi dini saat produk-produk impor masuk ke dalam negeri. Selama ini banyak sekali produk makanan dan barang yang sebenarnya berbahaya namun lolos dan akhirnya dijual bebas ke konsumen. Karenanya instansi terkait, entah itu Bea Cukai, dan lainnya lebih ketat mengawasi produk impor. (Catatan Redaksi Okezone, 24-9-2008)
Langganan:
Postingan (Atom)
