Minggu, 22 Februari 2009

Utak Atik Gathuk, Capres-Cawapres

PEMILU legislatif baru akan digelar awal April mendatang. Tapi, karena panjangnya masa kampanye, hiruk pikuk kampanye untuk menuju ke Senayan sudah terasakan sejak hampir setahun silam. Bahkan, partai-partai tidak saja berhitung mengenai perolehan suara kursi di DPR, mereka juga sudah ancang-ancang untuk mencari kandidat pasangan capres-cawapres.
Ada sebagian partai yang masih gamang untuk menyebut siapa capres-cawapres yang bakal mereka usung. Tapi, ada juga yang kelewat garang, dengan menyebutkan capresnya, yang kemudian mencoba memasang-masangkan dengan tokoh lain untuk menjadi cawapres.

Partai yang sudah memiliki calon presiden di antaranya Partai Demokrat yang bakal mengusung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), PDIP yang mengusung Megawati, Partai Gerindra yang mengusung Prabowo, PBR yang mengusung Rizal Ramli, Partai RepublikaN yang mengusung Sri Sultan HB X, PIS yang mengusung Sutiyoso.

Kini, nama-nama calon presiden itu mulai diotak-atik gathuk (direka-reka dihitung). Dipasang-pasangkan dan dicocok-cocokan. Kemudian lembaga survei pun akan bertanya ke masyarakat kira-kira pasangan mana yang paling sreg di mata mereka.

Di antara nama-nama di atas, ternyata jika berdasarkan survei justru laku kalau dijadikan cawapres. Misalnya saja nama Sultan HB X yang menjadi cawapres pendulang suara terbanyak jika dipasangkan dengan SBY dan Mega. Kemudian disusul nama Hidayat Nur Wahid, baik dipasangkan dengan SBY maupun dengan Mega.

Lantas SBY-JK? duet incumbent ini menurut hasil survei sudah "kurang laku". Tapi wacana untuk menduet dua incumbent ini tetap besar. Di sementara elit Golkar dan Partai Demokrat masih berharap SBY-JK dapat maju dalam Pemilu Presiden 2009. Tapi, akhir-akhir harmonisasi Golkar dan Partai Demokrat agak terkoyak dengan pernyataan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Akhmad Mubarok yang menyatakan perolehan suara Golkar pada pemilu legislatif akan turun dan hanya akan mendulang 2,5 persen.

Karuan saja, pernyataan itu mengundang reaksi keras dari elit Partai Golkar. Ujung-ujungnya ada desakan agar dalam Rakornas, Partai Golkar segera menyebut nama capres tanpa harus menunggu hasil pemilu legislatif.

JK juga bersuara lantang menanggapi pernyataan Mubarok. Tapi, JK sebagai Ketum Golkar masih enggan untuk menyebutkan capres-cawapres pada Rakornas. JK cenderung konsisten untuk menyebutkan nama capres-cawapres setelah pemilu legislatif diumumkan.

Otak-atik gathuk lainnya adalah wacana memasangkan SBY dengan Sri Mulyani. Dua nama yang diharapkan akan "mesra". Kira-kira kalau sekarang ini ada Film "Cinta Diantara Dua Diana," fenomena ini akan memunculkan wacana "Cinta Di antara Dua Ani." Maksudnya, SBY akan diapit oleh dua Ani, yakni Ani Yudhoyono dan Sri Mulyani yang juga biasa dipanggil Mbak Ani.

Tapi satu wacana yang saat ini belum direspons atau mungkin kurang bergema adalah memasangkan SBY dengan Sultan HB X. Berdasarkan survei hasilnya cukup baik. Tapi respons Partai Demokrat masih gamang. Hal ini berbeda dengan PDIP yang begitu "ngebet" untuk mengangkat Mega-Buwono.

Sekarang ini semua masih berhitung. Pemilu legislatif juga baru akan digelar dua bulan ke depan. Semua konstelasi politik akan sangat mudah berubah. Bisa jadi, akan muncul pasang-pasangan alternatif di luar nama-nama yang sudah sering disebutkan tersebut.

Senin, 05 Januari 2009

2009, Tahun Kerja Keras


Terompet pergantian tahun sudah ditiup. Dentang pergantian tahun sudah ditabuh. 2008 telah berlalu, dan kita menatap 2009. Ada secercah harapan, tapi juga banyak kegalauan dan kekhawatiran. Semuanya seperti berkata, 2009 adalah tahun yang penuh tanda tanya.

Hantaman krisis keuangan global yang dirasakan sepanjang 2008, diprediksikan akan semakin menjadi pada paruh pertama 2009. Ekonomi negeri ini juga akan terkena imbasnya. Situasi ekonomi yang sulit ini mungkin akan semakin menjadi karena pada April mendatang akan dihelat pemilihan umum legislatif yang akan disusul dengan pemilihan presiden.

Sementara ekonom masih mengharapkan pesta demokrasi itu mampu menopang perekonomian nasional. Belanja partai-partai seperti untuk pamflet, baliho, bendera, kaos, dan lainnya akan cukup besar. Benarkah? Mungkin bisa iya, bisa juga tidak. Pasalnya, dana partai itu kini juga sedang mengempis karena para donatur yang kebanyakan pengusaha juga tengah mengencangkan ikat pinggang.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam suatu kesempatan menyatakan ekonomi Indonesia tahun 2009 ini masih akan tetap positif. Pertumbuhan ekonomi masih akan berada di kisaran 4,5 persen. Tapi, presiden mengingatkan angka itu hanya akan tercapai jika semua elemen bangsa ini mau bekerja keras.

Pernyataan presiden jelas mengandung makna yang dalam. Tanpa kerja keras bisa jadi bangsa ini akan kembali tenggelam dalam kubangan krisis seperti tahun 1998. Mau? Tentu saja tidak. Karenanya, momentum Pemilu 2009 juga diharapkan bisa menggerakan perekonomian. Para pengusaha pun harus bekerja keras agar kapal usahanya tidak limbung dan kemudian karam.

Tahun 2009 menjadi tahun kerja keras bagi seluruh anak negeri. Kita semua tidak ingin negeri ini larut dalam krisis keuangan global. Kita tidak ingin jumlah pengangguran meningkat. Karena jika pertumbuhan ekonomi hanya 4,5-5 persen, maka jumlah lapangan kerja yang terbuka hanya 600 ribu, padahal setiap tahun jumlah angkatan kerja bertambah 2,5 juta. Dengan angka itu, maka tahun 2009 ini jumlah pengangguran diprediksi akan membengkak 1,5 juta. Apalagi ditengarai gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih akan terjadi.

Tahun 2009 sudah kita jejak. Tinggal langkah yang padu padan antara pemerintah, pelaku usaha, dan juga masyarakat diayunkan. Pemerintah mungkin perlu memberikan insentif fiskal ke pelaku usaha, pelaku usaha juga tidak perlu cengeng, masyarakat pun harus mau mendukung program yang ditawarkan pemerintah. Diharapkan dengan padu padan dan langkah yang serasi itu, tahun 2009 yang merupakan tahun politik dapat berlalu dengan sejuk dan kalis dari kubangan krisis.